Fenomena kisah nabi musa, konon…

tak kala nabi musa meminta kepada Allah swt untuk berjumpa dengannya di dunia fana, maka gunungpun hancur dan nabi musa musa tak kuasa dan pingsan.

tak kala nabi musa besar kepala ketika dipuji kaumnya, siapa yang paling pintar maka nabi musa menjawab aku. maka Allah swt menegur untuk belajar kepada nabi khidir tentang ilmu laduni. apakah ilmu laduni itu yaitu ilmu yang ada disisi Allah swt. sedangkan manusia mengaku menguasai ilmu itu dan menyebut dirinya paranormal atau indra ke enam yang tidak mungkin dibahas dengan ilmu filsafat.

pabrik_t <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Inilah perkataan Musa pada mereka yang merasa dirinya benar:
JIKA KAU MERASA BENAR, JIKA KAU MERASA SURGA ADALAH HAKMU, MINTALAH
KEMATIANMU!

Kebenaran tak pernah menjadi air, ia adalah batu, sebab itu setiap
kebenaran harus dipenggal seperti Ibrahim memenggal kepala Latah,
uzah, Watan dan Sanam.

Aku bertanya kepadamu Zar kamal, apakah kau ingin memberhalakan
Tuhan. memberhalakan Allah yang bahkan telah menyatakan dirinya
sebagai yang berarsyi di atas air, tak berbentuk tak berupa? Apakah
kau juga ingin memberhalakan qur’an dan Muhammad?

Nuruddin Asyhadie

— In [EMAIL PROTECTED]s.com, “zar_kamal” <[EMAIL PROTECTED]..> wrote:
>
> Salam,
> “Jika ada sebab pasti ada akibat”
> Jika ada Makhluk pasti Ada Tuhan. Karena keduanya memenuhi sebab
> akibat. Yaitu Tuhan Khalik pencipta dan makhluk yg diciptakan. Ada
> pernyataan bahwa makhluk itu tidak akan pernah tidak ada. Karena
> suatu sebab pasti ada akibat dan kedua-duanya tidak akan pernah
> tidak ada. Karena akan selalu bergandengan. Saya katakan benar.
> Bahwa tidak ada kekosongan suatu makhluk pun. Artinya makhluk akan
> selalu ada. Tapi masalahnya terdapat derajat makhluk itu sendiri.
>
> Tuhan, makhluk, (manusia merupakan bagian dari makhluk). Keduanya
> memenuhi hukum sebab akibat. Artinya keduanya selalu berhubungan.
> Tidak ada kecualinya. Makhluk lain selain manusia mereka
berhubungan
> sebagai akibat dari Tuhan. Lalu dalam Apakah bentuk “hubungan” itu
> sendiri? Dalam praktiknya yaitu tunduk dg aturan-Nya Tuhan.
Seperti
> siang merupakan waktunya matahari kelihatan dan malam waktunya
untuk
> bulan dan bukti lainnya. Lalu apakah hubungan manusia sebagai
> makhluk dan Tuhan sbg khalik?
> Kita harus mengetahui apa itu “hubungan”?
> Hubungan itu ada dua macam”
> 1. Hubungan dua sesuatu contoh: nasi dg roti. Keduanya dapat
> dihubungkan dg pemahaman bahwa keduanya adalah makanan.
> 2. Hubungan antara sesuatu dengan hubungan itu sendiri. Itulah
> hubungan Tuhan dan makhluk. Tuhan yg menciptakan makhluk. Makhuk
yg
> diciptakan Tuhan. Jadi kedua2 dihubungkan oleh ciptaan. Namun
Tuhan
> adalah pencipta. dan makhluk adalah yg dicipta.
> Jadi sudah suatu keharusan sesuatu yg dicipta memasuki aturan yg
> pencipta. Jika tidak tentu dia akan keluar dari jalurnya. Alias.
> Bukan pencipta ataupun yg dicipta.
>
> Kita sebagai yg dicipta masuk suatu aturan yg dicipta. Itu secara
> teori dan konsep. Namun secara praktis dan nyata. Apakah aturan
itu?
> Apakah aturan Manusia kepada Tuhan seperti aturan makhluk lain
> kepada Tuhan? Tentu jawabannya tidak. Karena kadar potensi manusia
> lebih banyak dibandingkan potensi makhluk lain. Tapi bukan
tempatnya
> untuk menjelaskan hal tersebut.
>
> Apakah aturan itu? Siapakah aturan tsb? Tentu jawaban tsb tidak
bisa
> dijawab oleh akal kita. Karena akal kita bertugas hanya memilih
> saja. Sekarang kita harus tahu terlebih dahulu aturan mana yg
> diinginkan Tuhan. Jika kita ingin tahu aturan mana yg Tuhan
> inginkan. Harus tahu dahulu siapa Tuhan. Bagaimana keberadaan-Nya?
> Berarti pengetahuan kita tentang aturan, misalnya (ajaran Agama,
> kitab, Nabi) merupakan pengetahuan turunan dari pengetahuan kita
> akan Tuhan. Jadi, kita harus tahu terlebih dahulu Tuhan mana yang
> benar-benar Tuhan. Artinya Tuhan yang keberadaanya memang bisa
> dijawab oleh akal itu sendiri. Bahkan tanpa Kitab sekalipun, atau
> Nabi.
> Makanya ada pemahaman bahwa wahyu itu ada dua. 1. Wahyu dari luar:
> Kitab, nabi 2. Wahyu dari dalam: Akal.
> Tapi akal mana yang dapat menjadi wahyu dan dapat membenarkan
> keberadaan Tuhan?
> Akal yg sudah tahu mana “ada” dan mana “tiada”. Karena Tuhan itu
> adalah benar-benar ada dan yang lain ketiadaan. Maka orang yang
> paling mengerti tentang Tuhan secara teori adalah orang yang
> mengetahui ada itu sendiri.
> Setelah kita Tahu mana yang benar-benar Tuhan berdasarkan teori.
> Lalu datang informasi dari Kitab dan Nabi bahwa inilah Tuhan yang
> kamu maksud. Karena ada kesamaan apa yang dikatakan akal tentang
> Tuhan itu sama dengan apa yang dikatakan Alkitab dan Nabi tentang
> itu.
>
>
> Semoga bermanfaat.
>
> wassalam.
>

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : filsafat@yahoogroups.com
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************

http://www.mail-archive.com/filsafat@yahoogroups.com/msg02107.html

KapanLagi.com – Apa jadinya jika tingkat agresivitas seksual seekor gajah menjadi tolok ukur penentu indra keenam kita? Sebuah penelitian yang disiarkan dalam jurnal ilmiah internasional, Nature menyebutkan bahwa perilaku seksual agresif gajah Asia dapat menjadi kunci untuk memahami indra keenam manusia.

Studi yang dilakukan ilmuwan Selandia Baru Dave Greenwood dan Elizabeth Rasmussen dari Oregon Heath and Sciences University memusatkan pada bagaimana cara binatang memberi isyarat satu dengan yang lain.

Gajah jantan Asia terkenal karena tingkat keagresifan prilaku seksnya, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘musth’. Selama masa itu, gajah-gajah jantan tersebut mengeluarkan campuran kimia yang beraroma tak sedap untuk memberitahu pasangan mereka, jelas para peneliti Jumat (23/12/05).

Yang menjadi pertanyaan ialah apakah manusia juga memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan pheromone — bahan kimia yang diproduksi oleh hewan dan berfungsi sebagai perangsang bagi yang lain dari jenis yang sama. Tetapi penelitian mengenai prilaku seksual gajah tersebut dipandang sebagai langkah penting untuk memahami isyarat tersebut di kalangan mamalia.

Para peneliti menemukan binatang jantan yang lebih matang menarik perhatian pada binatang betina dengan memasukkan keseimbangan mengenai bermacam jenis pheromone khusus yang disebut ‘frontalin’, yang terdapat dalam dua bentuk molekular ‘mirror-image.’

“Kami mendapati frontalin dikeluarkan oleh gajah dalam jumlah tertentu, tergantung atas usia hewan dan tingkat ‘musth’-nya,” jelas Greenwood.

Greenwood, asisten profesor kehormatan di School of Biological Science, Auckland University, mengatakan campuran pasti pheromone yang dikeluarkan oleh gajah jantan yang lebih tua mempengaruhi keinginan gajah betina untuk kawin dan cara gajah lain di sekitar mereka berprilaku.

“Tentu saja kami terkejut dengan hasil ini. Ini merupakan contoh pertama, di kalangan mamalia, mengenai penggunaan isyarat yang tepat serta jumlah unsur kimia dalam memberikan isyarat,” katanya.

“Semua reaksi terhadap pheromone seperti mengeluarkan suara, berlari, berputar-putar diterjemahkan pada tingkat dasar oleh makhluk lain, termasuk manusia,” tambahnya. (afp/rit)

http://www.kapanlagi.com/a/0000002645.html

Indra atau Indria

April 9, 2007

merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Dalam ajaran Hindu indra ada 11 macam dan disebut sebagai eka dasa indriya.

Lima macam indra berfungsi sebagai alat sensor dalam bahasa Sansekertanya disebut panca budi indriya dan dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai panca indra yaitu: alat pembantu untuk melihat (mata), alat pembantu untuk mengecap (lidah), alat pembantu untuk membau (hidung), alat pembantu untuk mendengar (telinga), dan alat pembantu untuk merasakan (kulit/indra peraba).

Lima jenis lagi disebut panca budi indria sebagai alat gerak yaitu tangan untuk mengambil, kaki untuk berjalan, anus untuk membuang air, mulut sampai hidung untuk bicara-bernapas-makan, alat kelamin untuk menikmati hubungan kelamin.

Indria ke-11 merupakan indra utama yang mengontrol jalannya kesepuluh indera yang lain. Indra kesebelas ini adalah pikiran sebagai kendali segala aktivitas diri.

http://id.wikipedia.org/wiki/Panca_indria

oleh: Vincent Liong

Saya bukan orang yang meyakini bahwa indra keenam itu
ada. Indra keenam adalah kondisi (menurut versi saya)
dimana kelima indra dan bagian otak yang
mengintepretasikannya bekerja dalam intensitas yang
sama kuatnya secara bersamaan dalam waktu yang sama.

Indra manusia dalam kerja manusia jika diurutkan dari
yang paling dominant digunakan sampai yang jarang
bekerja sebagai dominant:
1. Mata (visual/ indra pengelihatan)
2. Telinga (indera pendengaran)
3. Lidah (indra perasa)
4. Hidung (indra pembau)
5. Kulit (indra peraba)

Pada manusia moderen: Saat nonton TV dan menyetir
kendaraan dan banyak aktifitas manusia moderen, indra
dominant yang terpakai untuk menerima input adalah: 1.
Mata (visual/ indra pengelihatan) & 2. Telinga (indera
pendengaran). Tiga indra yang lain meski sebenarnya
juga bekerja sama kerasnya tetapi tidak dipedulikan/
digunakan/ diapresiasi/ diperhatikan hasil kerjanya
(tidak dianggap/ kurang dominant). Kondisi indra
keenam akan tercapai apabila kerja kelima indra kita
dapat secara maksimal untuk menerima input dari luar
tubuh dan otak mengintrepertasinya. Meski kita
memiliki otak, proses intrepretasi informasi dari tiap
indra yang terpisah membutuhkan latihan secara
individual yang biasa diperoleh dari pengalaman semasa
hidup individu makhluk hidup menerima informasi yang
masuk melalui kelima indranya yang bekerja secara
mandiri, sendiri-sendiri.

Tanya & Jawab: Mengapa mereka punya indera keenam?

1. Mengapa orang dapat mempertajam Indra Keenam dengan
meditasi ?
Jawab: Karena dengan meditasi, indra yang paling
dominant: 1. Mata (visual/ indra pengelihatan) tidak
dominant digunakan informasi (hasil inputnya),
sementara: 2. Telinga (indera pendengaran), 4. Hidung
(indra pembau) & 5. Kulit (indra peraba) digunakan/
diapresiasi/ diperhatikan informasinya. Hal ini
membuat indra-indra yang tidak dominant tsb mendapat
kesempatan untuk terlatih menerima dan
mengintrepretasi di otak hasil input secara dominant.
Untuk jangka panjang hal ini membuat keterampilan
kelima indra untuk menerima dan di proses selanjutnya
mengintrepretasi input sama-sama baik sehingga
terciptalah kondisi indera keenam tsb.

2. Mengapa Hewan dan manusia suku pedalaman yang hidup
di hutan tanpa
moderenisasi dikatakan memiliki indera keenam?
Jawab: Hewan (liar dan jinak) dan manusia suku
pedalaman yang hidup di hutan tidak memperoleh
fasilitas moderen yang membuat mereka tidak seperti
manusia moderen menggunakan input yang diperoleh
melalui mata dan telinga secara dominat dibanding
indera yang lain. Dimana keadaan ini membuat kelima
indera telah terlatih secara seimbang untuk menerima
selanjutnya mengintepretasi informasi di otak. Hal ini
membuat keterampilan kelima indra untuk menerima dan
di proses selanjutnya mengintrepretasi input sama-sama
baik sehingga terciptalah kondisi indera keenam tsb.

3. Mengapa kebiasaan untuk begadang dihubungkan dengan
indera keenam?
Jawab: Indra dominant (mata dan telinga) dan bagian
otak yang mengintepretasi informasi yang diterima dari
indra tsb pada manusia yang biasa begadang, sering
kali lelah karena harus secara terus menerus tanpa
istirahat menerima informasi dan
mengintepretasikannya. Intensitas cahaya ruangan yang
lebih lemah pada malam hari membuat mata dan bagian
otak yang omengintepretasikannya harus bekerja extra
keras karena jumlah cahaya sedikit dan input yang
masuk lebih halus dan kecil jumlah dn ukurannya
sehingga intepreter harus bekerja lebih sensitif.
Intensitas keheningan ruangan yang sangat hening di
malam hari, sama seperti pada mata, membuat telinga
harus mendengar getaran yang lebih lemah dan
membutuhkan fokus untuk mengintepretasikan nya. Hal
ini memberikan kesempatan kepada intepreter dari
indra-indra yang tidak dominant untuk melatih diri
dengan mengintrepretasi informasi yang masuk lebih
banyak persentasinya dibanding saat normal. Untuk
jangka panjang hal ini membuat keterampilan kelima
indra untuk menerima dan di proses selanjutnya
mengintrepretasi input sama-sama baik sehingga
terciptalah kondisi indera keenam tsb.

Tetapi, hal cara-cara memiliki indera keenam tsb di
atas tidak dipilih oleh Vincent Liong. Vincent Liong
cenderung mengajarkan kepada para muridnya untuk
melakukan proses pemahaman tentang kerja intepretasi
indera dengan melalui proses secara urut:

1. Diberi input bau, misalnya bau parfum, lalu
subject/object penelitian diminta untuk
menginepretasikan perbedaan dari saat sebelum ada
input bau dan setelah ada input bau.

2. Diberi input sentuhan, misalnya dengan meneteskan
alkohol di permukaan kulit yang sensitif yang
memberikan input alkohol menguap: tengah telapak
tangan dan kaki, ubun-ubun, dahi dan belakang kepala,
lalu subject/object penelitian diminta untuk
mengintepretasikan perbedaan dari saat sebelum ada
input sentuhan dan setelah ada input sentuhan.

3. Diberi input rasa, misalnya diberi perment mint
atau yang memiliki rasa yang kuat dan khas, lalu
subject/object penelitian diminta untuk
menginepretasikan perbedaan dari saat sebelum ada
input rasa dan setelah ada input rasa.

4. Diberi input suara, misalnya mendengarkan musik,
lalu subject/object penelitian diminta untuk
menginepretasikan perbedaan dari saat sebelum ada
input suara dan setelah ada input suara.

5. Vincent Liong lalu mengamati di bagian indera apa
yang kemampuan intepretasinya masih kurang terlatih
untuk selanjutnya diberi latihan dalam jumlah lebih
banyak. Vincent Liong tidak memberikan latihan yang
sifatnya input visual karena penggunaan input visual
di manusia moderen sudah sangat tinggi, tidak perlu
dilatih intepretasi lagi.

Ada perbedaan yang kuat antara jenis kemampuan yang
dimiliki antara individu dengan kemampuan penerimaan
dan intepretasi visual saja yang kuat dengan individu
yang memiliki keseimbangan kemampuan secara cukup
merata dan maksimal.

Bagi yang memiliki kemampuan penerimaan dan
intepretasi visual yang kuat cenderung mampu mengingat
tulisan, atau gambar misalnya dari simbol kata yang
berurutan atau gambar visual benda yang ada secara
individual. Kelemahannya, mereka kurang mampu merekam
informasi secara menyeluruh, melainkan
sebagian-sebagian. Bilamana bentuk informasi adalah
tulisan yng membuthkan pengertian; mereka hafal tetapi
tidak atau kurang mengerti.

Bagi yang memiliki kemampuan penerimaan dan
intepretasi kelima indera yang cukup maksimal dan
merata cenderung tidak terlalu ahli dalam menghafal,
tetapi mudah mengerti dan merekam informasi secara
keseluruhan bukan bagian demi bagian. Bilamana bentuk
informasi adalah tulisan yang membuthkan pengertian;
mereka tidak hafal kata demi kata, tetapi mengerti.
Pola ini hampir sama seperti penerapan pada latihan
membaca cepat.

Vincent Liong
Senin, 17 Oktober 2005

Pertama kali kita mendengar “ indra ke 6 ” pasti terbesit dibenak kita adalah suatu hal yang istimewa yang tidak dimiliki oleh orang banyak, tetapi dapat dipelajari namun hasilnya tidak sebagus orang yang punya indra ke 6 sejak lahir, namun tetap yang maha kuasa menunjukan sikap adilnya, kenapa bisa dibilang yang kuasa bersikap adil padahal tidak semua orang memilikinya? Pertanyaan seperti ini dapat dikias dengan kasus : seorang ayah memberikan uang saku kepada anaknya, anak pertama bersekolah di perguruan tinggi dan anak keduanya bersekolah di taman kanak – kanak. Anak pertama diberi Rp 400.000/bln sedangkan anak ke2 diberi Rp 50.000/bln. Nah menurut saya si ayah ini telah berlaku adil kepada ke2 anaknya. Contoh ini adalah sebagian kecil dari sifat adil yang dimiliki oleh allah swt.

Memang terkadang memiliki indra ke 6 sangat menyenangkan seperti halnya kita bisa tau segala urusan dunia lebih banyak dan lebih awal. Tetapi ada beberapa urusan yang sangat bahkan ‘teramat’ sensitive misalnya masalah kelahiran, kamatian,rizki,jodoh dll. Karena untuk hal ini masih menjadi rahasia yang allah swt. Jadi pada intinya hamper 80% urusan didunia dapat diketahui dengan ijin allah swt.

Beberapa dilemma yang sering terjadi pada orang yang memiliki indra ke 6 adalah : apabila ia mendapatkan gambaran tentang kejadian buruk yang akan menimpa dirinya ataupun keluarganya, sering kali mereka yang memiliki indra ke 6 ini lupa pada agama! Salah satu solusi untuk menjawab gambarannya adalah bersujud, berserah diri dan memohon ampunan kepada penciptanya. Banyak kasus yang terjadi setelah orang yang memiliki indra ke 6 mendapatkan gambaran maka yang terjadi adalah stress berat yang berkepanjangan dan mungkin bisa dikatakan menjadi orang gila. Oleh karena itu himbauan saya untuk orang orang yang telah memiliki indra ke 6 adalah dekatkan diri kedalam agama seperti halnya dengan belajar ilmu tauhid,fiqih,tasauf dll, dengan belajar ilmu itu kemungkinan besar kita bisa menjadi lebih bijak, karena menjadi orang baik itu mudah dan menjadi orang bijak sangatlah susah.

Hello world!

March 7, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.